KENDARI, INFORMASISULTRA.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari mengatakan pada bulan Mei 2024 angka inflasi di Kota Kendari masih berada dibawah rata rata nasional dan juga masih berada dibawah rata rata provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).
Penjabat (Pj) Wali Kota Kendari Muhammad Yusup, S.E., M.Si. mengatakan, Berdasarkan data dari Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri) Republik Indonesia (RI) pada bulan mei 2024 Kota Kendari mengalami inflasi sebesar 0,09 persen dan secara Nasional sebesar 0,03 persen sedangkan provinsi Sulawesi Tenggara mengalami inflasi sebesar 0,10 persen.
“Jika kita lihat dari inflasi tahunan Kota Kemdari berada diangka 2,55 persen dan ini masih dibawah rata rata nasional yang berada diangka 2,84 persen dan juga dibawah rata rata provinsi Sulawesi Tenggara yakni 2,57 persen,” kata Yusup Jumat 22 Mei 2024.

Yusup bilang, angka inflasi di Kota Kendari masih bisa terkendali karena Kota Kendari masih mampu berada dibawah Nasional dan juga provinsi Sulawesi Tenggara yang secara keselurahan merupakan capain yang luar biasa dan berkat kerja keras tim pengendali inflasi daerah (TPID) Kota Kendari sehingga hal tersebut patut untuk diapresiasi.
“Jadi kita di bawah nasional dan di bawah juga Provinsi Sulawesi Tenggara secara keseluruhan ini luar biasa kita mampu menekan angka inflasi dengan kerja-kerja PNS yang kita lakukan selama ini yang tergabung dalam tim pengadilan inflasi daerah kota Kendari,” jelasnya.

“Kita juga patut untuk berbangga kendati demikian kita juga tidak bisa lengah dengan hasil ini dan tetap bersinergi untuk menekan inflasi seperti penyelenggaraan pasar pangan murah dan kuliner murah,” sambungnya.
Kendati demikian, Muhammad Yusup juga berharap, agar seluruh instansi terkait terus menerus melanjutkan pemantauan harga pangan dan berkoordinasi dengan stekholder sehingga dapat dilakukan langkah langkah kongkret jika sewaktu waktu terjadi kenaikan harga pangan di Kota Kendari.
“Melakukan langkah-langkah konkrit yaitu dengan melakukan sosialisasi edukasi dan kampanye belanja sesuai dengan kebutuhan atau gerakan stop boros pangan,” tuturnya.

Yusup menekankan, Agar masyarakat juga dapat memanfaatkan pangan lokal sebagai pangan pengangganti beras sebab pangan lokal tidak akan mengalami kelangkaan.
“Saya juga mengingatkan masyrakat bisa memanfaatkan pangan lokal sebagai pangan pengganti beras, sebab jika kita masih dapat memanfaatkan pangan lokal maka saya yakin tidak akan terjadi kelangkaan beras karena masyarakat sudah mulai melakukan konsumsi makanan lokal seperti sagu jagung ubi kayu talas dan sebagainya,” tutupnya. (ADV/AT).








